Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Belajar a la Alamsyah

 

Sakit bukan jadi penghalang untuk terus belajar menuntut ilmu. Karena itulah, Rumah Harapan Indonesia (RHI) selalu menyediakan guru-guru yang bekerja sukarela untuk mengajar semua adik yang sedang tinggal di RHI. Kelas belajarnya dilakukan sekira pukul 19.00, setelah makan malam.

 

img-20160609-wa0020

Suasana kelas malam RHI. Kali ini yang mengajar Kak Jessica.

Suasana kelas malam RHI. Kali ini yang mengajar Kak Jessica.

 

Nah, saat belajar ini, masing-masing anak punya gaya belajarnya sendiri. Kalau yang usia 6-12 tahun biasanya senang belajar sambil berkumpul di dalam satu meja. Tapi kalau yang remaja, biasanya lebih senang belajar sendiri. Seperti Alamsyah, adik kami dari Simpang Jernih, Aceh, yang menderita jantung bocor dan usianya sudah 15 tahun.

 

Sejak ada donasi PC dari Asus, Alam makin senang belajar lewat komputer. Dia biasanya senang mengutak-atik angka lewat VCD berisi soal-soal matematika yang kami belikan untuknya. “Lebih gampang kalau lewat PC. Lebih praktis juga,” kata Alam yang kini duduk di kelas IX (3 SMP).

 

Alam belajar sambil dibimbing koordinator RHI Jakarta Kak Runy

Alam belajar sambil dibimbing koordinator RHI Jakarta Kak Runy

img-20160815-wa0010

 

Alam memang salah satu adik asuh kami yang cerdas. Menurut ibunya, Jaiyah, Alam jadi satu-satunya anak dalam keluarganya yang ingin sekolah sampai tingkat perguruan tinggi. “Anak-anak saya yang lain sekolah hanya sampai SD. Tapi Alam beda. Dia pintar. Tekadnya untuk sekolah kuat,” kata ibu Jaiyah yang memiliki lima anak.

 

Bahkan, semangat untuk tetap sekolah terus berkobar di benak Alam meski di wilayah tempat tinggalnya di Simpang Jernih tak ada sekolah SMA. “Mungkin nanti SMA di Banda Aceh, ikut saudaranya,” ujar ibu Jaiyah yang suaminya hanya bekerja di ladang, dengan hasil ladang yang tidak dijual, hanya dimakan untuk keluarga.

 

Saat ditanya, Alam bahkan punya niatan untuk sekolah di Jakarta saja. “Ya, kalau bisa di Jakarta bagus,” kata Alam yang bercita-cita menjadi dokter. Selamat berjuang, Alam! Semoga cita-citanya bisa tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>