Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Detia: Bersahabat dengan Gagal Ginjal

 

Tak mudah untuk bertahan hidup dengan penyakit berat di dalam tubuh. Apalagi bagi penderita gagal ginjal yang seumur hidupnya harus bergantung pada alat pencuci darah. Itulah yang dialami Adetiya Anderahesti, 17 tahun, adik dampingan RHVCF yang berasal dari Bogor.

 

Di usia remajanya, Detia menderita Chronic Kidney Disease (CKD) atau gagal ginjal kronis, stadium 5. Awalnya, saat berumur 12 tahun, Detia disebut terkena sindrom nefrotik, yaitu gejala awal sebelum terjadinya gagal ginjal. Saat itu, tubuh Detia bengkak-bengkak, kulitnya bercak-bercak merah, HB-nya rendah, dan perutnya sakit. Dokter sempat menyebut Detia terkena usus buntu.

 

Karena tak cukup biaya, penyakit Detia tak mendapat penanganan yang berarti. Pekerjaan ayah Detia yang hanya sopir taksi memang tak cukup untuk membayar biaya pengobatan yang mahal. Apalagi Detia juga masih punya adik yang harus dibiayai sekolahnya. Akibat tak ditangani serius, akhirnya 3 tahun kemudian, Detia divonis CKD stadium 5.

 

“Setelah itu, Detia mau tak mau harus rajin cuci darah di RSCM. 2 minggu sekali. Minum obat 9 jenis, 3 kali sehari. Sekolah juga terpaksa stop, dan gak bisa pergi jauh-jauh karena harus rutin cuci darah,” ujar mama Detia, Imas Dedeh.

 

Karena penyakit ini juga, Detia harus menjaga pola makannya. Dia tak boleh banyak minum, juga makan-makanan yang dianggap enak seperti nasi padang dan roti. “Tapi beberapa jam sebelum cuci darah, biasanya Detia boleh makan apa aja karena nantinya kan bakal cuci darah. Dia juga pasti puas-puasin makan deh,” kata Imas.

 

IMG_7858

 

Meski hidupnya terasa berat, tapi Detia masih bisa menikmati hidup layaknya seorang remaja. Kalau sedang pulang ke rumahnya di Bogor, Detia bisa menghabiskan waktu dengan berkaraoke atau main bersama teman-teman sekolahnya yang datang ke rumah. “Kalau nyanyi paling senang lagu-lagunya Ungu sama Evi Tamala,” kata Detia sambil senyum-senyum malu.

 

Saat SMP, Detia memang anak yang aktif. Dia hobi menari dan ikut ekskul basket. Jadi meski harus putus sekolah saat kelas 1 SMA, Detia tetap punya banyak teman yang sayang padanya. Teman-teman dan keluarganya jadi penguat Detia untuk berdamai dengan penyakit ini.

 

“Yang penting kita ikhlas saja. Berusaha, berdoa, ikhlas. Jadi bebannya tidak terlalu berat,” tutur Imas.

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by Herita Endriana in adik asuh, Berita Rumah Harapan, Rumah Harapan   Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>