Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Elia si Pejuang

 

Namanya Eliatul Ihlas, biasa dipanggil Elia. Umurnya baru 11 tahun. Sejak lahir, Elia sudah divonis menderita Arteriovenous Malformations (AVM) atau kelainan pada jalinan pembuluh darah arteri. Penyakit ini membuat beberapa bagian tubuh Elia, mulai dari tangan, kaki, hingga bibirnya membengkak. Kata Elia, bengkak-bengkak di sekujur tubuhnya itu tidak sakit. “Tapi kalau sedang kambuh, misalnya makan seafood, mie, atau minum es, langsung nyut-nyutan terus demam,” kata Elia.

 

Awalnya, saat baru berumur 3 bulan, ada tanda biru-biru memanjang di kulitnya. Mirip cacing yang tersembunyi di bawah kulit. Berobat ke puskesmas, Elia diminta dokter untuk melakukan rontgen. “Tapi namanya enggak punya uang, gak ngerti rontgen itu apa, kami pikir biayanya pasti mahal. Akhirnya Elia tidak dirontgen,” cerita ibu Elia. Karena tidak diobati, semakin Elia besar, semakin berkembang pula penyakit Elia. Tiba-tiba ada benjolan di bawah ketiaknya. Ibu Elia lalu membawanya ke dukun. “Tapi dukun bilang, ini “gelap”. Harus pake medis obatnya. Kena kanker pembuluh darah ini,” kata ibu Elia mengenang.

 

Akhirnya, Elia dibawa berobat ke rumah sakit swasta di daerah Banten, Jawa Barat. Di sana, Elia diterapi dengan biaya yang sekali berobat menghabiskan uang Rp350.000. 5 bulan diterapi, Elia tidak kunjung sembuh. Sang dokter pun angkat tangan dan menyuruh ibu Elia untuk membawanya ke RSCM. Saat itu, Elia sudah berumur 5 tahun. “Tapi mau bawa ke RSCM saya enggak ada biaya. Akhirnya cuma minta doa dan pengobatan ke kyai-kyai,” kata ibu Elia.

 

Tak mau anaknya terus-menerus menderita tanpa pengobatan, ibu Elia lalu mulai mengurus Jamkesmas agar Elia bisa berobat ke RSUD Pandeglang. Di sinilah ibu Elia bertemu dengan seorang mahasiswa dari kampus Mathla’ul Anwar (Unma) yang mengongkosinya untuk pergi ke RSCM di Jakarta. Berbekal ongkos hanya Rp700.000, Elia sekeluarga; bapak, ibu, Elia, dan adiknya Ima, pergi ke Jakarta untuk mengecek kondisi Elia di laboratorium RSCM. Proses pemeriksaan yang lama, membuat Elia sekeluarga harus berada di Jakarta selama seminggu. Dengan uang yang tak seberapa itu, mereka terpaksa tidur di depan IGD RSCM dan makan seadanya. “Kalau mau tidur harus kucing-kucingan dulu dengan satpam. Elia dibawa bapaknya dulu ke depan gerbang, kalau sudah agak malam baru Elia dibawa masuk lagi dan kami tidur di depan IGD. Kalau makan juga cuma beli dua bungkus nasi, makan berempat,” terang ibu Elia. Hingga sekarang, imbas tidur di lantai IGD dengan angin malam yang tak bersahabat membuat adik Elia, Ima, terkena sakit paru-paru. Meski sekarang dinyatakan dokter sudah sembuh, tapi Ima masih rentan terhadap penyakit.

 

Elia, Ima, ibu, dan adik Elia paling kecil, Wulan.

Elia, Ima, ibu, dan adik Elia paling kecil, Wulan.

 

Hasil laboratorium RSCM menyatakan Elia harus menjalani bedah vaskuler. Lagi-lagi, biaya menghalangi. Tak punya uang, Elia lalu kembali ke Banten tanpa menjalani pengobatan. Di usia 9 tahun, suatu kali Elia tersandung. Pembuluh darahnya langsung pecah. Akibatnya, Elia koma selama seminggu. “Di rumah sakit gak diapa-apain. Cuma diinfus aja. Enggak ada satu pun yang nolong,” urai ibu Elia. Tapi Elia memang seorang pejuang. Meski tak mendapatkan perawatan yang layak, Elia akhirnya tersadar dari koma selama 7 hari tersebut. “Dari situ, mulai ada bantuan dari temannya Ustad Aceng, namanya Kemuning. Elia lalu dibawa pake ambulans untuk berobat ke Jakarta,” kata ibu Elia.

 

Dari situ, Elia mulai menjalani operasi pertamanya. Sampai saat ini, Elia sudah menjalani dua kali operasi. Namun karena benjolan di tubuh Elia sudah semakin menjalar, Elia harus menjalani operasi berkali-kali. Untuk yang ketiga, Elia akan di operasi telapak tangannya. Sayangnya, meski jadwal operasi sudah didapat, namun ruangan operasi di RSCM selalu penuh. “Jadi ditunda-tunda terus operasinya,” ujarnya.

 

Selagi menunggu kamar operasi, sebenarnya Elia juga membutuhkan stocking kompresi untuk membantu mengontrol dan menurunkan pembengkakan di tubuhnya. Stocking ini harus dipakai di seluruh tubuh seperti memakai baju. “Harus beli dua buah supaya bisa ganti-ganti. Tapi harganya mahal. Untuk satu kaki harganya lima ratus ribu, jadi belum beli,” jelas ibu Elia.

 

Meski banyak hambatan dan jalan untuk sembuh masih panjang, tapi Elia tetap saja semangat. Buktinya Elia menyimpan cita-cita yang mulia, jadi guru TK. Di Rumah Harapan, Elia paling suka saat pelajaran keterampilan membuat kerajinan tangan. Kalau sudah menjahit atau membuat kerajinan, dia betah berlama-lama. Lihat bando yang dipakai Elia difoto ini, ini buatan Elia sendiri.

 

Elia memakai bando dengan hiasan yang dibuatnya sendiri

Elia memakai bando dengan hiasan yang dibuatnya sendiri

 

Inilah Elia. Tak banyak bicara, tapi tetap senyum dan semangat menjalani hari-harinya. Kita yang mudah menyerah, harus belajar dari Elia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>