Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Jalan Panjang untuk Vika

 

Vika Rifana usianya baru 1,8 bulan (lahir 26 Maret 2015) tapi sepertinya Tuhan menganggap Vika dan orang tuanya cukup kuat menerima cobaan penyakit yang bertumpuk-tumpuk.

 

Vika adalah adik dampingan kami yang berasal dari Muara Ciujung Timur, Rangkasbitung. Saat lahir, dia sudah menderita bibir sumbing. Bagian tengah bibirnya tak memiliki daging hingga ke atas hidung. Karena kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan -ayahnya hanya bekerja serabutan- Vika baru dibawa ke poli anak saat sudah berusia 3 bulan. “Pas diperiksa dokter, katanya bibir sumbing biasanya akan membawa kelainan yang lainnya,” kata Kokom, ibu Vika.

 

unnamed-3

Vika sebelum tinggal di RHI

 

Demi mencari jawaban yang lebih pasti, Vika akhirnya dibawa ke RSUD Banten. Perjalanan ditempuh dengan naik motor hingga 2 jam. Setelah diperiksa, benar saja. Rupanya kepala Vika juga lebih besar dari bayi normal. Ukuran lingkar kepalanya mencapai 32 cm, padahal bayi normal hanya 20 cm. Vika pun divonis hidrosefalus.

 

Tindakan cepat pun dilakukan. Juni 2015, kepala Vika dioperasi. Selang dipasang di kepalanya hingga perut untuk menyedot cairan di kepala. Sayangnya, dua minggu setelah dipasang selang, terjadi infeksi. Kepala Vika malah membesar.

 

Operasi kedua pun dilakukan pada September 2015. Operasi ini berjalan sukses karena kepala Vika lama-lama mengecil. Dia pun sudah bisa mengucap beberapa kata dan geraknya pun aktif. Tapi sayangnya, pada Juni 2016 kondisi Vika tiba-tiba memburuk.

 

“Dia nggak ada suaranya. Matanya rapet. Badan panas sampe 40 derajat dan kejang-kejang,” kata Kokom.

 

Vika dan ibunya Kokom. Vika  harus menggunakan NGT (semacam selang) untuk asupan nutrisi ke tubuh.

Vika dan ibunya Kokom. Vika harus menggunakan NGT (semacam selang) untuk asupan nutrisi ke tubuh.

 

Dibawa ke rumah sakit di Rangkasbitung, Vika diberi obat-obatan untuk menghilangkan kejangnya. Tapi obat hanya berfungsi sebentar. Setelah itu, Vika kumat lagi. “Tangannya sampe bengkok. Dokter sudah ngomong yang terburuk,” cerita Kokom.

 

 

Lagi-lagi, Vika pun akhirnya dibawa ke RSUD Banten. Di sana, bayi mungil ini dirawat sampai 3 bulan. Di sini juga kembali dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan baru diketahui kalau Vika menderita celebral palsy atau kelumpuhan otak.  kedua otot kakinya pun mengalami spastis atau kaku. Masih belum selesai, Vika pun mengalami kesulitan buang air kecil.

 

Kepala Vika seperti bergelombang, tapi ini sebenarnya menandakan cairan di kepalanya sudah berkurang.

Kepala Vika seperti bergelombang, tapi ini sebenarnya menandakan cairan di kepalanya sudah berkurang.

 

Sekarang, Vika dan orang tuanya memang mesti bersabar menjalani pengobatan penyakitnya satu per satu. Sekarang yang sedang ditangani adalah kesulitan buang air kecil. Lalu Vika juga harus menaikkan berat badannya hingga belasan kilo, karena sekarang beratnya hanya 7 kg.

 

Yuk sama-sama kita doakan Vika semoga kuat menjalani proses pengobatan yang panjang, dan keluarganya juga diberi kesabaran. Aminn…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>