Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

JYSK

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan



JYSK

Komplikasi di Tubuh Dini

 

Jadi Andini Putri harus kuat. Karena di dalam tubuh remaja berusia 15 tahun asal Pekanbaru ini bersemayam banyak penyakit. Salah satunya bahkan tergolong penyakit langka yang hingga kini sulit dideteksi.

 

Jadi, saat Dini berumur 12 tahun, dia didiagnosa terkena diabetes tipe 1 (pankreas tidak mampu memproduksi insulin). Mundur ke belakang, saat berusia 10 tahun, berat Dini mencapai 40 kg. Sangat tidak normal untuk usianya saat itu. Pada usia 7-12 tahun pun, Dini sering kejang saat bangun tidur.

 

Saat didiagnosa menderita diabetes, tubuh Dini yang semula gemuk tiba-tiba menyusut atau mengecil secara bertahap. Saat diperiksa lebih lanjut, otaknya pun ternyata tidak berkembang. “Ada gumpalan di otak. Sampai sekarang dia juga belum menstruasi,” terang ibu Dini, Afriani. Sekarang, berat badan Dini pun hanya 23 kg.

 

Dini saat piknik RHI ke Bandung

Dini saat piknik RHI ke Bandung

img-20160818-wa0089

 

Hasil pemeriksaan lainnya juga menunjukkan bahwa tak hanya tubuhnya yang mengecil, tapi bentuk giginya pun tak berkembang, mirip seperti anak usia 1 tahun. Fungsi indera pendengar dan penglihatan juga menurun sejak setahun yang lalu. Mata kanan Dini hampir tak bisa melihat. Dan penurunan fungsi ini berbeda dengan mata minus. “Mirip katarak. Tidak bisa normal walau pakai kacamata,” kata Afriani. Untuk telinga, Dini juga dianjurkan untuk memakai alat bantu dengar. Satu lagi, belakangan, sekujur tubuh Dini juga mulai ditumbuhi tahi lalat berukuran besar.

 

Anehnya, dengan begitu banyak kondisi yang tidak normal itu, sejauh ini secara kasat mata, Dini terlihat baik-baik saja. Tidak ada keluhan yang berarti. Karena kasusnya yang unik inilah, Dini sempat diajak salah satu dokter di RSCM ke Amerika untuk ditangani lebih lanjut. Sang dokter bersedia untuk membiayai kebutuhan Dini dan ibunya selama di sana. “Tapi saya nggak enak kalau tidak bawa uang sedikit pun. Akhirnya ya tidak jadi,” kata Afriani, ibu tiga anak yang suaminya hanya buruh bangunan ini.

 

Sejauh ini, Dini hanya diberikan obat THT, obat hormon, dan sunblock hingga menunggu pemeriksaan berikutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *