Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Mardiah Berhasil!

 

Namanya singkat saja, Mardiah. Bocah 5 tahun asal Pauh, Jambi, ini juga termasuk pendiam jika dibandingkan dengan adik-adik dampingan lainnya yang tinggal di RHVCF. Tapi soal perjuangannya melawan penyakit jantung bocor yang diidapnya sejak lahir, Mardiah jagonya.

 

Menurut ayah Mardiah, Umar, hanya beberapa hari setelah anaknya lahir, dia bisa merasakan ada kelainan pada diri Mardiah. Meski anak ini terlihat normal dan anggota tubuhnya tidak membiru layaknya pasien anak penderita jantung bawaan, “Tapi kalau saya dengar detak jantungnya itu suaranya kayak mesin. Ddrrrr…. drrrr… gitu,” ujar Pak Umar menirukan.

 

Walau curiga dengan kondisi kesehatan Mardiah, namun Pak Umar tidak mampu membawa anaknya ke dokter. Pekerjaannya sebagai buruh penyadap karet hanya cukup untuk makan bersama empat anaknya. Saking tak mampunya, istri Pak Umar yang menderita penyakit syaraf di kakinya pun tak mampu dibawa ke rumah sakit. Akibatnya, saat Mardiah baru berusia 5 bulan, ibunya meninggal. Praktis, Pak Umar tak hanya harus mencari nafkah, tapi juga mengurus tiga anaknya serta Mardiah yang sakit.

 

Mardiah dan ayah Umar

Mardiah dan ayah Umar

 

Baru setelah menabung sedikit demi sedikit, Mardiah bisa dibawa berobat saat usianya 8 bulan. Saat dicek ke sana ke mari, diketahui kalau Mardiah mengalami jantung bocor dan harus dioperasi. Lagi-lagi, tidak mungkin bagi Pak Umar untuk membawa Mardiah ke Jakarta untuk dioperasi.

 

4 tahun Mardiah terpaksa harus hidup dengan penyakit jantung di tubuhnya. Selama itu pula, dia terlihat lemah dan sering capek. Harapan mulai muncul saat ada staf Puskesmas di kampungnya yang bernama Ibu Ita mau membantu Pak Umar mengongkosi biaya transportasi ke Jakarta. “Waktu itu memang Mardiah sudah ada BPJS,” kata Pak Umar.

 

Atas bantuan Ibu Ita, maka pada bulan Oktober 2015, Mardiah dibawa ke RSCM Jakarta untuk didaftarkan sebagai pasien yang harus dioperasi. Proses pengurusan ini berlangsung cukup lama, harus bolak-balik Jakarta-Jambi. Selama itu pula kalau di Jakarta, Mardiah dan Pak Umar tinggal di rumah singgah RSCM.

 

Lantas pada awal Desember 2015, Mardiah dan Pak Umar pun pindah ke Rumah Harapan VCF atas rekomendasi sesama keluarga pasien penyakit jantung. Kurang dari 2 minggu tinggal di RHVCF, Mardiah langsung mendapat jadwal operasi kateterisasi pada 19 Desember 2015. Dilanjutkan dengan operasi besar pada Januari 2016.

 

J

 

Sekarang, kondisi Mardiah sudah sehat. Dia sudah sembuh. Mardiah hanya tinggal menunggu jadwal pemeriksaan lagi 2 bulan ke depan. Mardiah pun sudah siap pulang.

 

Yang menarik, semenjak tinggal di RHVCF, ada perubahan dalam diri bocah yang tubuhnya seperti anak usia 2 tahun ini. Waktu awal tinggal di RHVCF, dia tidak pernah bicara. Makan sendirian, tidak disuapi seperti adik-adik yang lain. Main pun sendirian. Namun kakak-kakak sukarelawan, juga Kak Silly, rajin mengajaknya bermain dan bercerita. Lama-kelamaan, Mardiah pun lebih terbuka, lebih ceria, dan mau bermain bersama adik-adik yang lain :-)

 

FB_IMG_1453650847937

FB_IMG_1453650308827

 

Namun bukan berarti masalah sudah selesai. Rupanya, Ayah Umar tak punya uang untuk kembali ke Jambi. Utang sudah menumpuk di kampung. Sementara kalau tinggal di RHVCF selama 2 bulan, artinya dia tidak punya penghasilan sama sekali untuk membayar utang-utangnya. Belum lagi anak-anaknya -yang sulung baru berusia 18 tahun- hanya tinggal bertiga saja di rumah. Si sulung keluar dari pesantren, karena tak lagi punya biaya sekolah.

 

Tentu saja, kami tak tega dengan kondisi keluarga Pak Umar. Seperti prinsip yang kami pegang, kami selalu berusaha memberikan yang terbaik, yang lebih, dari yang kami janjikan. Atas kesepakatan para pengurus, akhirnya kami memberikan ongkos pulang ke Jambi untuk Mardiah dan ayah Umar. Semoga dengan bantuan kecil ini, ayah Umar bisa melanjutkan hidupnya di Jambi, dan Mardiah bisa sekolah dengan hasil keringat ayahnya. Aminn…

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>