Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Melvin yang Selalu Ceria

 

Kakinya tidak bisa dipakai berjalan. Mulutnya tidak bisa digunakan untuk berbicara jelas. Tapi Melvin seolah tak peduli dengan penyakit dan kondisinya yang serba terbatas. Dia selalu ceria, ribut, dan menyenangkan setiap kali bertemu dengan siapapun.

 

Melvin terlahir 9 tahun yang lalu di Pekanbaru, tahun 2006, dengan nama Melvina Ristantri. Saat baru berusia 1 tahun, Melvin tiba-tiba saja mengalami panas tinggi hingga kejang. Dibawa ke rumah sakit, Melvin koma di ruang ICU. Satu minggu, dua minggu, Melvin tak kunjung sadar. Satu bulan kemudian, Melvin baru membuka matanya. Dia akhirnya sadar. Tapi vonis berat langsung menghantam Melvin. Bocah kecil ini mengidap radang otak berat.

 

melvin

 

Bagi Mama Nurlita, orangtua Melvin, dunia serasa runtuh. Tak hanya vonis berat itu yang membuatnya limbung, tapi biaya pengobatan yang begitu besar juga membuatnya putus asa. Demi mengobati Melvin, Mama Nurlita sudah menjual rumah warisan dari orangtuanya, juga bengkel yang dikelola suaminya. Itu pun Melvin masih belum bisa keluar dari rumah sakit. Belakangan, Melvin harus tinggal di sana hingga 3 bulan lamanya.

 

“Saya sudah benar-benar putus asa. Saya sudah mau bunuh diri dari lantai 3 rumah sakit. Mau terjun saja saya. Ambil saja nyawa saya ini,” kenang Mama Nurlita sambil mengusap airmata.

 

Tapi untung, Widy, kakak Melvin yang saat itu masih berusia 8 tahun, langsung memeluk Mama Nurlita. “Saya langsung keingat lagi. Sadar. Saya harus urus anak-anak. Saya terima cobaan ini. Ini titipan Allah. Akan saya jaga mereka,” katanya tegar.

 

Lepas dari rumah sakit, Mama Nurlita mulai membawa Melvin untuk melakukan fisioterapi. Dalam seminggu, Melvin melakukan dua kali terapi syaraf dan terapi-terapi lainnya. Tapi cobaan masih belum berhenti.

 

Di usia 3 tahun, Melvin didiagnosa terkena radang paru-paru. Kembali dia dirawat di rumah sakit. Kali ini sebulan lamanya. Melvin pun harus minum obat untuk mengobati paru-parunya selama 3 bulan penuh.

 

Setahun kemudian, cobaan datang lagi. Tubuh Melvin kembali panas tinggi. Saat dicek ke rumah sakit, trombosit Melvin ternyata tinggi sekali. “Lalu pas saya mau antar Melvin buang air kecil, saya kaget. Kok alat kelaminnya yang perempuan jadi berubah seperti kelamin laki-laki. Ya Allah… saya langsung teriak ke dokter,” cerita Mama Nurlita.

 

Dokter rupanya juga bereaksi sama. Kaget. Dari hasil pemeriksaan, rupanya Melvin mengalami kelamin ganda. Dokter lalu menyarankan agar Melvin dibawa ke Jakarta demi mendapatkan pemeriksaan yang lebih menyeluruh dan lengkap tentang kondisinya tersebut. “Tapi saya tidak punya uang untuk ke Jakarta,” katanya.

 

Untung, akhirnya dinas provinsi membiayai ongkos Melvin dan Mama Nurlita untuk ke Jakarta. Tahun 2010, Melvin dibawa ke RSCM dan disuntik hormon. “Karena masih kecil, jadi harus dikasih hormon supaya segera bisa dioperasi kelamin,” ujar Mama Nurlita.

 

Dari sini, perjalanan panjang Melvin untuk mendapatkan kelamin laki-laki yang sempurna pun dimulai. Tahun 2011, Melvin menjalani operasi pertama. Tahun berikutnya, kembali Melvin disuntik hormon. Tahun 2013, operasi ketiga dilakukan atas bantuan PTPN yang memberi uang Rp10 juta. Tahun 2014, dilakukan operasi ketiga. Sampai operasi ketiga ini, kelamin laki-laki Melvin masih belum sempurna. “Sekarang masih lihat kondisi Melvin dulu, jadi belum tahu kapan akan dilakukan operasi keempat. Operasi keempat ini nantinya akan memindahkan saluran kencing ke atas,” terang Mama Nurlita.

 

Meski sibuk menjalani pengobatan kelamin ganda, Melvin tetap rutin melakukan penyembuhan untuk penyakit radang otaknya. Hingga saat ini tinggal di Rumah Harapan VCF, Melvin rajin ke RSCM 2-3 kali seminggu untuk melakukan terapi syaraf, belajar duduk dan berdiri. “Alhamdulillah sudah ada hasilnya. Dulu tidak bisa duduk. Sekarang sudah bisa duduk dan sudah bisa merayap,” katanya.

 

Melvin jadi bos! lengkap dengan senyumnya yang khas.

Melvin jadi bos! lengkap dengan senyumnya yang khas.

 

Perjalanan Mama Nurlita untuk membimbing dan mendampingi Melvin tentu masih sangat panjang. Bisa jadi, ini adalah perjalanan seumur hidupnya. Beban pun semakin berat karena suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan di Pekanbaru kini terkena stroke ringan. Padahal, masih ada dua kakak Melvin yang masih harus dibiayai sekolahnya. “Anak saya kalau sekolah jalan kaki berkilo-kilometer biar irit ongkos,” ujar Mama Nurlita.

 

Meski hidup terasa berat, tapi Mama Nurlita berusaha untuk tetap tegar. Janjinya untuk tetap mengurus anak-anaknya, akan tetap dipegangnya teguh. Adapun Melvin, dengan keceriaannya, dengan senyumnya, juga dengan keantusiasannya setiap kali melihat wajahnya ada di dalam foto, rasanya cukup untuk membuat siapapun senang ada di dekatnya :-)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>