Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Semangat, Indah!

 

Tubuhnya kecil kurus, sering menangis. Bibir dan ruas-ruas kukunya terlihat membiru. Di usia 2,5 tahun, Cahaya Ramadhani -biasa dipanggil Indah- memang harus menanggung penyakit yang berat: jantung bocor.

 

Penyakit ini diketahui bersemayam di tubuh Indah saat usianya 5,5 bulan. Layaknya gejala umum jantung bocor, beberapa anggota tubuh Indah membiru. Dibawa dari kampung halamannya di Aceh ke Medan, dokter yang memeriksanya di sana sempat memberi harapan. “Sakit jantung bocor, tapi nanti bisa sembuh sendiri. Yang penting Indah jangan sampai pingsan,” ujar Nurmysia, ibu Indah.

 

Setahun berlalu. Indah memang tak mengalami hal buruk. Namun saat kembali dibawa ke dokter, kondisi jantung Indah ternyata semakin parah. Dokter memerintahkan agar Indah segera dibawa ke Jakarta untuk dioperasi. Tapi layaknya cerita sedih yang terus berulang, keluarga Indah tak punya uang untuk biaya operasi dan pergi ke Jakarta.

 

IMG-20151111-WA0008

 

Tapi hanya orang lemah yang pasrah pada keadaan. Meski tak mampu membawa Indah untuk dioperasi, orang tua rajin membawa Indah ke dokter. Tiap tiga bulan sekali, Indah dicek kondisi kesehatannya. “Sekali kunjungan 150 ribu rupiah. Hanya periksa saja, tak ada obat,” kata Nurmysia. “Yah, seenggaknya kita tahu perkembangannya,” imbuhnya. Tak hanya itu, Nurmysia bahkan mengubah nama anaknya, dari Cahaya menjadi Indah. “Maksudnya supaya nasibnya lebih beruntung.”

 

Sayangnya, saat itu takdir seolah belum berpihak pada Indah. Hanya dalam hitungan bulan, kondisinya semakin memburuk. Pada usia dua tahun, Indah bahkan tak bisa berjalan. Dokter lagi-lagi menyuruh Nurmysia untuk bergegas membawanya ke Jakarta untuk dioperasi. “Kalau tidak, Indah bisa lumpuh,” ujar Nurmysia menirukan ucapan dokter.

 

Tapi lagi-lagi, uang menjadi halangan terbesar untuk membawa bocah itu ke Jakarta. Ayah Indah hanya seorang buruh di perkebunan kelapa sawit. Namun Tuhan memang Maha Kuasa. Ditengah kesempitan itu, ada tangan-tangan dermawan yang membantu. Ada komunitas yang memberinya uang untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta. Ada pula yang memberi sedikit uang saku. Adapun biaya operasi, ada BPJS yang menanggung.

 

Walau begitu, sampai di Jakarta bukan berarti masalah selesai. Tak punya sanak saudara di kota ini, Nurmysia terpaksa menyewa kamar kos di kawasan yang tak jauh dari RSCM. “Tapi biaya mahal sekali. 1,3 juta per bulan. Itu pun kamarnya kecil sekali. Hanya bisa untuk tidur,” katanya.

 

Biaya kos yang besar, membuat Nurmysia harus pandai menghemat biaya hidup, terutama untuk urusan makan. “Jadi kalau beli lauk dihemat sekali. Misalnya beli telur satu, dimakan separuh untuk siang, separuh untuk malam. Kalau beli ikan juga begitu,” ujarnya. “Kalau Indah makan 3 kali, kalau saya cukup dua kali saja supaya irit,” imbuhnya.

 

Untung, hanya setengah bulan saja mereka tinggal di kamar kos. Lewat informasi dari sesama pasien, Nurmysia menemukan Rumah Harapan VCF. Kini, mereka tak perlu pusing memikirkan biaya hidup di Jakarta. Cukup berkonsentrasi saja pada proses pengobatan.

 

“Katanya mesti operasi dua kali. Yang pertama untuk ngilangin biru-biru di badan. Yang satu lagi katanya nanti kalau udah umur 5 tahun,” urai Nurmysia.

 

Perjalanan pengobatan memang maish panjang. Semoga Indah tetap kuat menjalaninya. Semangat ya, dek!

Posted by Herita Endriana in adik asuh, Berita Rumah Harapan, Rumah Harapan   Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>