Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

JYSK

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan



JYSK

Syahdan Belajar Bernapas

 

Syahdan Pratama adalah adik kami yang datang dari Banten. Usianya baru 1 tahun (lahir 17 November 2015). Dia menderita TB Paru dan Laringomalasia Tipe 2 atau penyempitan di saluran napas di bawah tenggorokan. Karena penyakit ini, kondisi Syahdan memang memprihatinkan. Dia tidak bisa bernapas kalau tidak dibantu tabung oksigen. Bagian lehernya juga harus dilubangi dan dipasang alat untuk bisa mengalirkan dahak. Seringkali kalau Syahdan bernapas atau menangis, pasti terdengar suara yang berat, seperti orang mengorok, dari tenggorokannya.

 

Syahdan dengan alat bantu napas di tenggorokan. Lubang yang di tengah itu untuk membuang dahaknya tiap 2-3 jam sekali.

Syahdan dengan alat bantu napas di tenggorokan. Lubang yang di tengah itu untuk membuang dahaknya tiap 2-3 jam sekali.

 

Penyakit ini sudah ketahuan ada di tubuh Syahdan waktu anak pertama ini masih berusia 3 bulan. Waktu itu gejalanya adalah dia sering batuk-batuk muntah, sampai diare. Sayangnya, ibu Syahdan adalah orang tua tunggal. Suaminya, atau ayah Syahdan, sudah meninggal karena sakit waktu Syahdan berusia 7 bulan di kandungan. Karena tidak ada nafkah, jadilah Syahdan tidak bisa dibawa ke rumah sakit.

 

Baru saat usia 5 bulan, itu pun karena Syahdan demam dan batuk-batuk terus enggak berhenti, akhirnya dia dibawa ke klinik. Waktu itu juga berat badan Syahdan sudah turun banyak. Dari saat lahir 4 kg, naik 7 kg, lalu gara-gara sakit dan tidak diobati turun menjadi 5 kg.

 

 

Syahdan dan ibunda

Syahdan dan ibunda

Di klinik, Syahdan cuma diuap dan dikasih obat penurun panas. Tentu saja, ini bukan pengobatan yang memadai. Makanya, usia 7 bulan, Syahdan sakit lagi. Kali ini dia akhirnya dibawa ke rumah sakit di Banten. Di sana, Syahdan dirawat sampai dua bulan. Dia juga dites mantoux untuk mendiagnosis adanya penyakit tuberkulosis. Tapi di rumah sakit, Syahdan malah disebut ada kista di paru-parunya. Karena itulah, akhirnya dia dirujuk ke RSCM, Jakarta.

 

Tanggal 12 Agustus 2016, Syahdan dan ibunya akhirnya ke RSCM. Di sana, kembali Syahdan dirontgen, dan juga dinyatakan ada kista di paru-parunya. Namun saat dioperasi pada 14 September, dinyatakan kalau paru-paru Syahdan tak ada kista, melainkan TBC. Paru kirinya sudah rusak, sementara paru kanannya pun tersumbat lendir. Intinya, tubuhnya tak bisa normal untuk mengeluarkan karbon dioksida. Perut Syahdan pun sempat dibolongi.

 

Menurut ibunya, ada kemungkinan kondisi Syahdan bisa separah ini akibat saat sakit, dia juga terpapar penyakit dari neneknya yang juga memiliki penyakit paru-paru.

 

cxi5g-7usaaixo5

Syahdan waktu rayakan ulang tahun pertamanya di RHI. Rameee... Semoga bisa jadi keluarga baru buat Syahdan dan ibunya ya :-)

Syahdan waktu rayakan ulang tahun pertamanya di RHI. Rameee… Semoga bisa jadi keluarga baru buat Syahdan dan ibunya ya 🙂

 

Sampai berapa lama Syahdan harus bernapas dengan menggunakan bantuan tabung oksigen dan lubang di tenggorokannya? Ini pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan pasti. Yang jelas, saat ini, Syahdan hanya kuat bernapas sendiri selama 3-4 jam saja. Lebih dari itu, kondisinya akan memburuk. Tapi dia terus dilatih untuk suatu saat nanti bisa bernapas dengan paru-parunya sendiri selama mungkin.

 

Sekarang, Syahdan masih rajin minum obat untuk paru-paru dan ginjalnya demi mengurangi bakteri yang masuk ke tubuhnya. Semoga Syahdan tetap kuat ya. Aminn…

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *