Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Trisno Sanggup Bertahan Hidup

 

Trisno adalah pejuang sejati. Selama 17 tahun, dia berhasil berdamai dengan salah satu penyakit paling mematikan di dunia, Talasemia atau kanker darah.

 

Trisno sudah mengidap penyakit ini sejak usia 6 bulan. Saat itu perutnya besar, tubuhnya kuning, dan tidak bisa melakukan aktivitas apa pun. Usia 8 bulan, Trisno bahkan sudah harus cuci darah sebulan sekali di RSCM. “Waktu itu teknologinya belum canggih, cuci darahnya dari sumsum tulang belakang. Kalau sekarang tinggal lewat tangan saja,” kata Ibu Trisno, Sutinah.

 

Dari usia 8 bulan hingga 17 tahun melakukan cuci darah, kondisi Trisno baik-baik saja. Hingga pada awal Oktober 2016, tiba-tiba kakinya bengkak hingga harus digips. Belum jelas benar mengapa kaki Trisno bengkak, tapi yang pasti, dia memang pernah jatuh terpeleset saat menjalani cuci darah. Selain itu, Trisno juga menderita gizi buruk karena beratnya hanya 19 kg.

 

img-20161027-wa0005

 

Sekarang, Trisno sedang menjalani serangkaian pemeriksaan, selain menjalani cuci darah seminggu sekali di RSCM. Sebenarnya, Trisno tinggal di daerah Jakarta Utara, bukan di luar Jakarta seperti adik-adik asuh di RHI. Trisno kami tampung karena kondisi keuangan orang tuanya yang sangat terbatas. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan. Sementara dengan kondisi Trisno yang tidak bisa jalan dan harus ke RSCM tiap 2-3 kali seminggu untuk berobat, biaya yang dikeluarkan sangatlah besar. “Naik taksi sekali jalan saja 150 ribu. Habis biaya di ongkos, sementara ada adik Trisno juga yang butuh biaya,” kata Sutinah.

 

Trisno sebenarnya punya dua kakak. Namun mereka meninggal karena memiliki penyakit yang sama dengan Trisno. Kakak pertamanya meninggal usia 9 bulan, sedangkan kakak kedua usia 16 bulan. “Makanya saya bersyukur, Trisno bisa bertahan sampai sekarang,” katanya.

 

Trisno hanya sekolah sampai kelasĀ 4 SD, karena malu untuk melanjutkan sekolah. Bukan karena dia sakit, tapi karena sempat absen berbulan-bulan karena menjaga adiknya di rumah sakit. “Tapi dia sebenarnya pintar. Dulu waktu masih bisa jalan suka main komputer di warnet sambil jaga adiknya kalau saya kerja nyuci baju,” kata Ibu Trisno yang sekarang tak lagi bekerja karena harus menjaga Trisno.

 

Tetap semangat ya, Trisno. Semoga kamu bisa sehat lagi dan bisa main dengan adik kamu lagi :-)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>