Yayasan Sahabat Valencia Peduli    Blood4LifeID.com    3LitAngels   

Ayo #DukungFilmIndonesia.


Support Night Bus Movie    save our children - cosmic clothes   

Sponsor

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Astra International untuk Ruang Inspirasi Astra

Central Spring Bed - Official Beds of Rumah Harapan

Kansai Paint - Official Coating of Rumah Harapan

TRACare - Official Transport of Rumah Harapan

JYSK

JYSK

JYSK>

Vissel: Dari Rumah Harapan ke Surga

 

Bulan Oktober 2015 adalah bulan yang berat bagi kami. Di bulan tersebut, tiga adik dampingan kami harus mengakhiri perjuangan mereka menundukkan penyakitnya. Mereka yaitu Aidil, Bintang, dan Vissel.

 

Vissel adalah adik cantik kami yang paling kecil. Umurnya baru 4,5 tahun. Penderita hidrosefalus sejak usia 2 tahun. Asalnya dari Bengkulu.

 

Vissel belum genap sebulan tinggal di Rumah Harapan VCF. Dia hadir dalam hidup kami tepat setelah Aidil berpulang. “Gugur satu, tumbuh seribu”, begitu pikir kami saat Vissel datang ke Rumah Harapan. Saat itu, Vissel menjadi penyembuh luka kami karena harus begitu cepat kehilangan Aidil.

 

CQ2fAsJUYAAA1rc

Vissel saat pertama kali datang ke Rumah Harapan VCF.

CSo-oLiU8AEx-Yf

 

Membawa Vissel berobat ke Jakarta adalah perjuangan berat bagi orangtuanya. Ayahnya yang bekerja serabutan butuh waktu hingga 2 tahun untuk akhirnya sanggup membawa Vissel berobat ke RSCM. Tanpa pengetahuan apapun tentang Jakarta, ayah dan ibu Vissel memberanikan diri berangkat. Namun memang tak mudah hidup di Jakarta. Baru 6 bulan tinggal di ibu kota, hasil tabungan langsung habis.

 

Uang tersebut habis bukan untuk biaya pengobatan Vissel, karena biaya tersebut sudah ditanggung BPJS. Melainkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti membayar uang sewa kos dan makan. Sayang, waktu itu mereka belum mengetahui tentang keberadaan Rumah Harapan VCF. Baru setelah Vissel selesai menjalani operasi yang ke-3, dia dibawa ke RHVCF.

 

Tinggal di RHVCF, kondisi Vissel yang baru selesai operasi memang belum stabil. Apalagi, operasi ketiganya itu dianggap gagal oleh dokter. Proses operasi tidak berhasil mengeluarkan cairan di otak Vissel. Mungkin karena itu pula, Vissel kerap mengalami kejang-kejang saat tinggal di Rumah Harapan VCF.

 

Beberapa kali kami harus membawa Vissel ke IGD RSCM karena kejang tersebut. Beberapa kali pula Vissel dirawat di RSCM. Hingga akhir Oktober lalu, kondisi Vissel semakin memburuk. Kami lagi-lagi harus membawanya ke IGD RCM.

 

CSo-mV8UsAAimQY

 

 

Di IGD RSCM, Vissel sampai harus dibantu dengan resusitasi (pompa jantung manual) hanya untuk bernapas. Orangtua, Kak Silly, serta para sukarelawan yang mendampingi Vissel sampai bergantian memompa jantungnya. Terakhir, karena orangtua Vissel sudah sedemikian lelah, Kak Silly akhirnya menyarankan keduanya untuk beristirahat dan makan siang terlebih dahulu. Saat itu, hari memang sudah sangat sore, sekira pukul 4 lewat. Namun saat itulah kondisi Vissel semakin melemah.

 

CSomwg3UwAAOYq0

 

Vissel harus kembali dipompa jantungnya. Kami berusaha sekuat tenaga. Kak Silly pun berdoa. Dan Vissel tampaknya memilih untuk pulang ke pelukan Tuhan. Di tangan Kak Silly dan para sukarelawan, Vissel pun pergi.

 

Sedih, itu yang pertama kali kami rasakan. Tapi siapa kami berani menolak kuasa Tuhan? Kami sudah cukup merasa beryukur, telah diberi kesempatan bertemu dengan Vissel dan kedua orangtuanya. Orangtua yang berusaha sekeras mungkin demi mengobati anaknya. Orangtua yang tetap tegar saat takdir menetapkan anak yang dilahirkannya harus pergi lebih dulu.

 

Selamat jalan Vissel. Bahagia di surga ya, dek :-)

 

CSpBZHhUsAElqqW

Posted by Herita Endriana in adik asuh, Berita Rumah Harapan, Rumah Harapan   Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>